Senin, 01 Juni 2015

tugas kulia aku



Di abad ke-19, ada sejumlah upaya untuk memutakhirkan logika (George Boyle, Ernst Schröder, Gotlob Frege, Bertrand Russell dan A. N. Whitehead). Tapi, selain memperkenalkan simbol-simbol, dan beberapa penataan di sana-sini, tidak terdapat perubahan yang mendasar di sini. Banyak klaim besar yang dibuat, contohnya oleh para filsuf linguistik, tapi tidak terdapat banyak basis untuk mereka. Semantik (yang berurusan dengan kesahihan sebuah argumen) dipisahkan dari sintaksis (yang berurusan dengan apakah sebuah kesimpulan dapat ditarik dari aksiom dan premis tertentu). Ini dianggap sebagai sesuatu yang baru, padahal hanya merupakan pernyataan ulang dari pembagian kuno, yang telah akrab bagi orang-orang Yunani Kuno, antara logika dan retorika. Logika modern didasarkan pada hubungan logis di antara seluruh kalimat.
Pusat perhatiannya telah bergeser dari silogisme menuju argumen-argumen yang hipotetikal dan disjungtif. Ini bukanlah satu lompatan yang dapat membuat orang yang melihat menahan nafas. Kita dapat mulai dengan kalimat (penilaian) bukannya silogisme. Hegel melakukan ini dalam Logic. Bukannya sebuah revolusi besar dalam pemikiran, ia malah lebih mirip mengocok ulang satu tumpukan kartu yang telah kusut karena dipakai berkali-kali.

Dengan menggunakan analogi fisika yang superfisial dan tidak tepat, apa yang disebut "metode atomik" yang dikembangkan oleh Russell dan Wittgenstein (dan yang kemudian disangkal sendiri oleh orang yang disebut terakhir itu) mencoba membagi bahasa menjadi "atom-atomnya". Atom dasar dari bahasa menurutnya adalah kalimat sederhana, yang merupakan penyusun dari kalimat-kalimat kompleks. Wittgenstein bermimpi mengembangkan satu "bahasa formal" untuk tiap ilmu pengetahuan - fisika, biologi, bahkan psikologi. Kalimat-kalimat ditempatkan pada "uji kebenaran" yang berdasarkan hukum-hukum usang tentang identitas, kontradiksi dan tanpa-antara. Dalam kenyataannya, metode dasar yang digunakan masih tetap sama saja. "Nilai Kebenaran" adalah satu masalah "atau ini ... atau itu"[1], masalah "Ya atau Tidak", masalah "benar atau salah". Logika baru ini dirujuk sebagai kalkulus proposional. Tapi kenyataannya sistem ini bahkan tidak mampu menangani argumen-argumen yang sebelumnya dapat ditangani oleh silogisme yang paling dasar (kategorikal). Sang Gunung telah melahirkan seekor tikus.

Kenyataannya adalah bahwa bahkan kalimat sederhanapun tidak dapat dipahami, sekalipun ia dianggap sebagai "batu penyusun materi" linguistik. Bahkan penilaian yang paling sederhana, seperti yang ditunjukkan Hegel, mengandung pula kontradiksi. "Caesar adalah seorang manusia", "Fido adalah seekor anjing", "pohon itu hijau", semua menyatakan bahwa yang khusus adalah sama dengan yang umum. Kalimat itu nampaknya sederhana, sebenarnya tidak. Ini adalah tutup buku bagi logika formal, yang terus saja berkeras untuk mengabaikan semua kontradiksi, bukan hanya dari alam dan masyarakat, tapi juga dalam pemikiran dan bahasa itu sendiri. Kalkulus proposional berangkat dari persis postulat yang sama dengan yang digunakan oleh Aristoteles di abad ke-4 SM, yaitu, hukum identitas, hukum (tanpa-) kontradiksi, dan hukum tanpa-antara, yang ditambahi hukum negasi-ganda. Hukum-hukum ini tidak dituliskan dengan huruf biasa melainkan dengan simbol sebagai berikut:

a) p = p

b) p = ~ p

c) p V = ~ p

d) ~
Logika Modern
Logika Modern atau Logika Simbolik dikembangkan dari logika Aristoteles oleh Augustus De Morgan (1806-1971) dan George Boole (1815-1864).
Logika ini membahas argument-argumen yang memungkinkan sesuatu dapat dimasukkan ke dalam bentuk yang lebih luas daripada hanyabentuk silogistik. Logika ini juga mengenalkan symbol-simbol untuk kalimat yang lengkap dan perangkai-perangkai yang akan merangkainya, misalnya “and”, “or”, “if…then….” dll.
Logika klasik dan logika modern termasuk dalam logika deduktif, di mana premis-premis dari suatu argument yang valid harus memiliki kesimpulan, atau kebenaran suatu kesimpulan harus mengikuti premis-premisnya.
Dalam bentuk biasa, semua well-formed sentences di dalam logika modern memiliki satu nilai saja dari dua nilai berikut, yaitu benar (true=1) atau salah (false=0).
Logika modern dijadikan dasar pembuatan aljabar Boole yang dikembangkan oleh George Boole dan menjadi dasar teori tentang pengembangan komputer digital.
Suatu well-formed sentences akan diformulasikan dalam bentuk suatu rumus sehingga dinamakan well-formed formulae (wff). WFF berbentuk suatu ekspresi logika atau bentuk logika yang menggunakan tanda kurung biasa yang tepat dan sempurna sehingga disebut fully parenthized expression (fpe) dan setiap pernyataan di dalamnya hanya memiliki satu nilai 0 atau 1.
Logika matematika yang menangani masalah WPF yang hanya memiliki nilai benar atau salah adalah :
  1. Logika Proposisional. Fokus utama logika ini pada pernyataan-pernyataan yang dapat digolongkan dalam pengertian proposisi-proposisi.
  2. Logika Predikat. Pernyataan-pernyataan yang tidak dapat digolongkan sebagai proposisi, dan tidak dapat diproses dengan logika proposisional akan ditangani logika predikat yang memfokuskan diri pada predikat yang selalu menyertai suatu pernyataan dalam bentuk kalimat.

Logika Simbolis


Silogisme menjadi pokok studi logika selama kurang lebih 2000 tahun sebelum dikembangkannya logika simbolis pada akhir abad tujuh belas. Selama itu, silogisme tak pernah tergantikan peranannya. Seperti namanya, logika simbolis melibatkan simbol dan manipulasi aljabar dalam logika.

Pernyataan

Semua penalaran logika didasarkan pada pernyataan. Sebuah pernyataan adalah kalimat yang memiliki nilai benar saja atau salah saja.

CONTOH

a. Apple Manufaktur Komputer.
b. Apple Manufaktur Komputer terbaik dunia.
c. Apakah kamu membeli sebuah komputer IBM?
d. Sebuah komputer seharga 2 jt yang memperoleh diskon 20% berharga 1 jt.
e. Saya berbohong.

PENYELESAIAN

a. Kalimat "Apple Manufaktur Komputer" bernilai benar, maka, kalimat a merupakan sebuah pernyataan.
b. Kalimat "Apple Manufaktur Komputer terbaik dunia" adalah sebuah pendapat. Benar bagi sebagian dan tidak untuk lainnya, karena itu, ini bukan merupakan kalimat.
c. Kalimat "Apakah kamu membeli sebuah komputer IBM?" adalah pertanyaan. Pertanyaan tersebut bisa benar bisa juga salah, karenanya, ini bukan suatu pernyataan.
d. Kalimat "Sebuah komputer seharga 2 jt yang memperoleh diskon 20% berharga 1 jt" adalah kalimat yang salah. Maka, ini merupakan kalimat pernyataan (25% dari 2 jt adalah 1,5 jt).
e. Kalimat "Saya berbohong." Kalimat ini merupakan paradox, bila dia benar, maka akan bertentangan dengan apa yang dia katakan. Bila dia salah, maka yang dikatakan benar, tetapi hal yang dibenarkan berlawanan dengan apa yang dikatakannya. Karena itu, kalimat ini bukan suatu pernyataan.


Kalimat majemuk dan kata penghubung logika

Hal yang mudah menentukan kalimat seperti "Anton mendonorkan darahnya" adalah pernyataan yang bernilai benar atau salah, cukup dengan memeriksa kenyataan apakah dia melakukannya atau tidak. Tetapi tidak semua kalimat memiliki bentuk sederhana seperti itu. Perhatikan contoh kalimat "Anton mendonorkan darahnya dan belum mencuci mobilnya, atau dia pergi ke perpustakaan". Kalimat tersebut merupakan gabungan kejadian-kejadian yang bisa terjadi atau tidak pada pengalaman pribadi Anton. Pernyataan seperti ini dinamakan pernyataan majemuk. Pernyataan majemuk adalah pernyataan yang dibentuk dari beberapa pernyataan yang lebih sederhana. Sebuah pernyataan majemuk yang paling sederhana dapat dibentuk dengan menyisipkan kata 'not' atau 'tidak' dalam suatu pernyataan sederhana, atau dengan menggabungkan dua atau lebih kalimat pernyataan sederhana menggunakan kata penghubung logika seperti dan, atau, jika -- maka --, hanya jika; serta jika dan hanya jika. Kalimat majemuk 'Anton tidak mencuci mobilnya' berasal dari kalimat yang lebih sederhana yakni 'Anton mencuci mobilnya'. Kalimat "Anton mendonorkan darahnya dan tidak mencuci mobilnya, atau dia pergi ke perpustakaan," terdiri dari tiga pernyataan, masing-masing dapat bernilai benar atau salah.

Bilamanakah kalimat-kalimat majemuk tersebut bernilai benar?
Sebelum menjawab ini, kita pelajari dahulu bagaimana kalimat-kalimat sederhana dapat dibentuk menjadi kalimat-kalimat yang lebih kompleks berdasarkan bagaimana kalimat-kalimat tersebut dihubungkan. Suatu pernyataan majemuk dapat berupa negasi, konjungsi, disjungsi, kondisional, atau gabungannya. Seperti apa sajakah mereka? Kita akan membahasnya berikut.


Negasi

Negasi suatu pernyataan merupakan penolakan pernyataan tersebut. Negasi direpresentasikan menggunakan simbol ~. Negasi sering dibentuk dengan menambahkan kata 'tidak' pada kalimat asal. Contoh diberikan kalimat "p:hari ini hujan", negasinya adalah "~p:hari ini tidak hujan". Bila kalimat asal benar, negasinya bernilai salah, begitu pula sebaliknya. Nilai kebenaran kalimat negasi selalu bertentangan dengan nilai kebenaran kalimat asal. Karena nilai kebenaran suatu negasi bergantung pada kalimat asalnya, negasi suatu kalmat diklasifikasikan sebagai kalimat majemuk.

CONTOH
Tuliskan kalimat yang merepresentasikan negasi dari masing-masing kalimat berikut: a. Calon legislatif itu dari partai golkar, b. Calon legislatif itu bukan dari partai golkar. c. Beberapa caleg berasal dari partai golkar, d. Semua caleg berasal dari partai demokrat, e. Tidak ada legislatif dari partai hanura.

PENYELESAIAN
a. Negasi dari 'calon legislatif itu dari partai golkar' adalah 'calon legislatif itu bukan dari partai golkar'.
b. Negasi dari 'calon legislatif itu bukan dari partai golkar' adalah 'calon legislatif itu dari partai golkar'.
c. Kesalahan sering muncul ketika ditanyakan negasi dari 'beberapa caleg berasal dari partai golkar'. Banyak yang menjawabnya 'beberapa caleg tidak berasal dari partai golkar'. Pernyataan itu tidak menolak pernyataan awal. Pernyataan 'beberapa caleg berasal dari partai golkar' memberi implikasi setidaknya ada satu orang caleg berasal dari partai golkar. Pernyataan yang menyangkal ini tentu saja 'Tidak ada caleg yang berasal dari partai golkar'. Pernyataan tersebut merupakan negasi dari pernyataan awal.
d. Negasi dari 'semua caleg berasal dari partai golkar' adalah 'ada paling sedikit satu caleg yang tidak berasal dari partai golkar', atau kalimat yang sering digunakan 'beberapa caleg tidak berasal dari partai golkar'.
e. Negasi 'Tidak ada legislatif dari partai hanura' adalah 'ada paling sedikit satu orang legislatif dari partai hanura'. Bila beberapa diinterpretasikan paling sedikit satu, kita dapat menggunakan negasi lain yakni 'beberapa legislatif dari partai hanura.

Kata beberapa, semua, dan tidak ada disebut sebagai quantifier, kuantor. Pernyataan di c sampai e melibatkan kuantor di dalamnya. Negasi dari 'semua p adalah q' adalah 'beberapa p tidak q'. Begitu pula sebaliknya. Serta negasi 'beberapa p adalah q' adalah 'tidak ada p adalah q'.

Konjungsi p ^ q

Perhatikan pernyataan 'Abbas adalah anggota PMI dan dia kader partai golkar'. Ini merupakan kalimat majemuk, karena kalimat ini berasal dari dua kalimat sederhana - 'Abbas seorang anggota PMI' dan kalimat 'Dia (Abbas) merupakan kader partai golkar' - dan kata penghubung 'dan'. Kalimat majemuk seperti ini dinamakan konjungsi. Konjungsi berisi dua atau lebih pernyataan yang dihubungkan oleh kata hubung dan. Kita gunakan simbol ^ untuk merepresentasikan kata dan, maka, konjungsi 'p ^ q' merepresentasikan kalimat majemuk 'p dan q'.

CONTOH 
Gunakan representasi simbolis 
p : Abbas seorang anggota PMI
q : Abbas merupakan kader partai golkar
Ekspresikan pernyataan majemuk dibawah menggunakan simbol:
a. Abbas seorang anggota PMI dan merupakan kader partai golkar
b. Abbas seorang anggota PMI dan dia bukan kader partai golkar

PENYELESAIAN
a. p^q
b. p^~q

Disjungsi

Disjungsi terbentuk ketika beberapa kalimat dihubungkan oleh kata 'atau'. Simbol yang digunakan oleh disjungsi untuk merepresentasi kata 'atau' adalah v. Jadi, disjungsi menggunakan 'p v q' untuk merepresentasikan kalimat 'p atau q'. Kita dapat interpretasikan kata 'atau' dengan dua cara. Perhatikan kalimat berikut:

p : Ahmad merupakan kader PDIP
q : Syu'aib merupakan kader PDIP

Kalimat Ahmad merupakan kader PDIP atau Syu'aib merupakan kader PDIP dapat disimbolkan dengan p v q. Catat bahwa suatu kemungkinan keduanya dapat menjadi kader PDIP secara bersama-sama. Dalam contoh ini, kita membahas tentang 'atau' inklusif. Sekarang perhatikan contoh

p : Ahmad merupakan kader PDIP
q : Ahmad merupakan kader Demokrat

Dalam kenyataan di dunia politik kita, memang sangat mungkin satu orang mempunyai dua keanggotaan kader. Namun, kita asumsikan masing-masing orang hanya ingin menjadi kader di satu partai saja. Maka, kedua kejadian tersebut tidak mungkin terjadi bersama-sama. Teknisnya, bila kedua kalimat bernilai benar, maka gabungan disjungsi keduanya salah. Singkatnya satu kalimat mengexclude kalimat yang lain. Disjungsi ini dinamakan disjungsi Eksklusif.

Kondisional

Perhatikan kalimat 'Bila sekarang hujan, maka Jalan menjadi basah'. Kalimat tersebut merupakan kalimat majemuk, karena dibentuk oleh dua pernyataan, yakni 'Sekarang hujan' dan 'jalan menjadi basah'. Perhatikan bahwa kedua kalimat tersebut dihubungkan oleh kalimat penghubung 'Bila -- Maka --'. Sebarang kalimat yang berbentuk 'Bila p maka q' dinamakan suatu kondisional (atau implikasi); p dinamakan hipotesis kondisional, sedang q disebut konklusi suatu kondisional. Kondisional 'jika p maka q', (anggap bila sama dengan jika), disimbolkan menjadi p  q (p mengimplikasi q). Dalam kehidupan sehari-hari, kata maka dalam kondisional sering tak disebutkan. Misal, bila sekarang hujan, jalan menjadi basah. Cara lain untuk menuliskan kondisional adalah q jika p (jalan menjadi basah bila sekarang hujan).

CONTOH
Menggunakan representasi simbolis
p : Saya sehat
q : Saya memakan makanan cepat saji.
r : Saya berolahraga secara teratur.

Ekspresikan kalimat dibawah dalam representasi simbolils.
a. Saya sehat bila berolahraga secara teratur.
b. Jika saya hanya memakan makanan cepat saji dan tidak berolahraga secara teratur, saya kurang sehat.

PENYELESAIAN
a. Saya sehat bila berolahraga secara teratur adalah kalimat kondisional 'jika -- maka --' dan dapat direpresentasikan ulang menjadi 

    'jika berolahraga secara teratur, saya sehat'

    maka, kalimat majemuk ini direpresentasikan secara simbolis dengan r  p

b. Jika saya hanya memakan makanan cepat saji dan tidak berolah raga secara teratur, saya kurang sehat. Kalimat ini kondisional 'jika -- maka --', namun melibatkan konsungsi dan dua negasi di dalamnya. Representasi secara simbolis kalimat di atas adalah (q ^ ~p)  r.

CONTOH
Ekspresikan kalimat 'Semua manusia pasti mati'

PENYELESAIAN
Kalimat 'Semua manusia pasti mati' dapat dinotasikan ulang Jika dia manusia, pasti mati. Maka, kita definisikan dua kalimat simbolis:

p : Sesuatu merupakan manusia
q : Manusia pasti mati

Kalimat tersebut dapat diekspresikan p -> q. Secara umum, kalimat 'semua p maka q' dapat di ekspresikan p -> q

Kita telah membahas bagaimana pernyataan-pernyataan majemuk terbentuk, berikutnya kita dapat memberikan analisis nilai kebenarannya. 

Pernyataan majemuk
Simbol 
Pembacaan 
Negasi 
not 
Konjungsi 
dan 
Disjungsi 
atau 
kondisional/implikasi 
 
jika -- maka -- 

Logika Simbolik

Logika adalah suatu metode atau teknik yang dicipitakan untuk meneliti ketepatan penalaran.

A. Kalimat
Kalimat terbagi atas 2 macam, yaitu :
a.Kalimat tidak berarti (secara gramatikal tidak mempunyai arti)
Contoh :
• Soplo jatuh cinta pada tembok
• Tince habis dibagi 5
b.Kalimat yang mempunyai arti
Contoh :
• Sentun adalah mahasiswa STKIP prodi matematika
• Lima adalah bilangan prima


B. Pernyataan
Pernyataan adalah suatu kalimat yang bernilai Benar atau Salah saja, tetapi tidak sekaligus keduanya.

Nilai kebenaran suatu pernyataan bergantung kepada kebenaran atau ketidakbenaran dari realitas yang dinyatakannya.

Contoh :
• 8 habis dibagi 2 (benar)
• 9 adalah kelipatan 4 (salah)
• SBY adalah Presiden RI (benar)
• Jakarta adalah ibukota RI (benar)

C. Semesta Pembicaraan
Semesta Pembicaraan adalah himpunan semua objek yang sedang dibicarakan.

D. Variable
Variable adalah lambang yang dipakai untuk menunjukkan anggota semesta pembicaraan yang belum tentu

E. Konstanta
Konstanta adalah lambang yang dipakai untuk menunjukkan anggota semesta pembicaraan yang sudah tentu.

Konstanta tidak harus berupa bilangan. Semua tergantung pada Semesta Pembicaraan.

Contoh :
SP = {Mahasiswa STKIP PGRI Lumajang}
Soplo adalah mahasiswa STKIP PGRI Lumajang yang rumahnya di Selok Awar - awar.
Dalam contoh tersebut, konstantanya adalah Soplo

F. Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat 1 atau lebih variabel yang apabila variabel terssebut diganti dengan anggota semesta pembicaraan, maka kalimat tersebut berubah menjadi pernyataan.

Contoh :
• 3x - 5 = 6
• 3x + 8 > 12
• 2x + y = 20
• 2x + 3y < 20

G. Himpunan Penyelesaian
Himpunan penyelesaian adalah himpunan dari anggota - anggota Semesta Pembicaraan yang apabila disubstitusikan pada variabel kalimat terbuka, maka kalimat terbuka tersebut berubah menjadi pernyataan benar.

H. Kuantor
Pernyataan berkuantor adalah suatu kalimat yang variabelnya mengandung suatu ukuran jumlah tertentu.

Kuantor terbagi atas 2 macam, yaitu :
a. Kuantor Universal
b. Kuantor Eksistensial


Tidak ada komentar:

Posting Komentar